Cara Mengerjakan Tes Koran yang Baik dan Benar
Pertanyaan Konsultasi
Kang, saya sudah sering ikut psikotes jenis tes koran tapi tidak pernah lolos, tes koran yang baik sebenarnya bagaimana ya? Saya tidak pernah mencapai atas namun tinggi yang di capai relatif sama satu dengan yang lain
Rezki Septiany
Jawaban Konsultasi
Halo Rezki,
Asesmen psikologi atau yang lebih dikenal sebagai psikotes memang salah satu tahap yang bagi banyak orang dianggap menyebalkan. Kadang ada yang merasa psikotes adalah sesuatu yang tidak adil atau tidak relevan. Maka sebagai awalan sebelum saya menjawab pertanyaan Rezki, saya akan menjelaskan dulu posisi psikotes pada proses seleksi.
penyusunan psikotes (yang biasa kita sebut sebagai "alat ukur") didasarkan pada penelitian yang cukup panjang dengan melibatkan banyak responden. Tujuannya agar alat ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang ingin diukur dan berlaku umum tanpa dipengaruhi latar belakang sosial, budaya, maupun ekonomi responden.
[caption id="attachment_825" align="alignnone" width="630"]
cara mengerjakan tes koran dengan benar[/caption]Lalu apa yang diukur sih?
Kalau penggaris tentu kita tahu fungsinya adalah untuk mengukur panjang dari suatu benda. Termometer untuk mengukur suhu. Lalu apa yang diukur oleh tes koran?
Sebelum saya menjawab, perlu diketahui bahwa ada dua macam tes koran. Jenis pertama adalah seperti yang Rezki hadapi yaitu tes Kraepelin. Sedangkan jenis kedua adalah tes Pauli. Jika kita googling kedua kata itu kita akan menemukan banyak artikel "sesat" yang memberi tips cara mengerjakannya.
Tes Kraepeling didesain untuk mengukur kemampuan atensi meskipun pada perkembangannya juga dinilai bisa mengukur hal-hal yang diukur oleh tes Pauli. Apa saja yang diukur oleh tes Pauli? sederhananya adalah potensi seseorang dalam bekerja. Ini analoginya seperti petunjuk bensin pada motor atau mobil. Makin banyak bensin maka makin jauh dia akan bisa melaju, makin sedikit bensin, maka jarak tempuh juga terbatas. Makin besar potensi seseorang, ia diprediksi akan makin tinggi karir puncaknya.
Sifat prediktif dari psikotes berarti psikotes berguna untuk memprediksi bagaimana nanti orang akan bekerja. Hal ini berarti juga kalau tidak ada hal yang menjadikan seseorang berisiko tinggi untuk perusahaan, maka tidak mungkin seseorang ditolak begitu saja berdasarkan psikotes.
Maka bisa jadi bukan psikotes yang membuat Anda gagal. Tapi karena terlalu banyak informasi salah yang diterima, yang kemudian diigunakan, sehingga hasil psikotes malah tidak memberikan hasil yang diharapkan. Ini saya simpulkan dari pertanyaan Rezki yang mengutip "Saya tidak pernah mencapai atas namun tinggi yang di capai relatif sama satu dengan yang lain" ini contoh informasi sesat. Tidak ada suruhan bahwa seseorang harus mencapai hasil konstan. Terlalu berfokus menyamakan tinggi ini yang malah membuat hasil tes tidak sesuai yang diharapkan.
Good luck! Do know that job hunting is a job itself.

Ervan Abu Nangim, S.Psi.
Career Coach
[alert-announce]Mau Konsultasi ? Klik Di Sini[/alert-announce]
Posting Komentar untuk "Cara Mengerjakan Tes Koran yang Baik dan Benar"